Ditinjau dari tiga ekosistem utama (mangrove, padang lamun, terumbu karang) yang menopang produktivitas perairan pesisir dan lautan, PP No. 19 Tahun 1999 perlu direvisi karena criteria baku kerusakan mangrove, padang lamun, dan terumbu karang yang tertera pada penjelasan pasal 8 ayat 1 dan 2 secara substansial tidak menempatkan ketiga ekosistem tersebut sebagai suatu ekosistem. Khusus untuk ekosistem mangrove dalam kaitannya dengan pencemaran, tidak selamanya komunitas tumbuhan mangrove menjadi bioindikator yang sahih sebgai penanda adanya pencemaran pada ekosistem mangrove yang bersangkutan. Banyak hasil penelitian membuktikan bahwa sedimen dan fauna invertebrate yang berada dan hidup di habitat mangrove berperan sebagai indicator yang sahih penanda ada tidaknya pencemaran pada ekosistem mangrove yang bersangkutan. Dengan demikian, criteria baku kerusakan mangrove harus dirubah.

Mangrove sebagai sumberdaya pada dasarnya terdiri atas (1) satu atau lebih spesies tumbuhan yang hidupnya terbatas di habitat mangrove, (2) spesies-spesies tumbuhan yang hidupnya di habitat  mangrove, namun juga dapat hidup di habitat non-mangrove, (3) biota yang berasosiasi dengan mangrove (biota darat dan laut, lumut kerak, cendawan, ganggang, bakteri dan lain-lain) baik yang hidupnya menetap, sementara, sekali-sekali, biasa ditemukan, kebetulan maupun khusus hidup di habitat mangrove, (4) proses-proses alamiah yang berperan dalam mempertahankan ekosistem ini baik yang berada di daerah bervegetasi maupun di luarnya, dan (5) daratan terbuka/hamparan lumpur yang berada antara batas hutan sebenarnya dengan laut. ………….. (Full text)

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.